TEMON – (14/10) Salah satu agenda dalam program pelestarian budaya dan nguri – uri budaya leluhur di SMAN 1 Temon di masa Pandemi adalah belajar membatik bersama.
Beberapa Guru karyawan dan siswa berkumpul di pendapa SMAN 1 Temon mengikuti acara cara membatik dari pemilik batik Djoeragan Batik Galur.
Di atas kain katun putih primisima berukuran 1 meter x 1 sentimeter, Guru karyawan dan siswa menggores motif batik dengan rapi. ’’Kain putih tadi kami motif dengan pensil. Peserta tinggal menebalkan motif tersebut dengan malam,’’ ujar pemateri.

Dalam pembelajaran, motif yang diajarkan masih sederhana. Rata-rata berbentuk motif Jogja sederhana dan dikombinasikan dengan kearifan lokal (motif batik khas Kulon Progo. Baca: Geblek). ’’Biar tangan mereka terbiasa dulu, biar luwes dan mengikuti garisnya,’’ terangnya.
Sebelumnya, peserta diajari teknik memegang canting dan mengambil malam panas dari wadah. Kepala canting harus mendongak ke atas. Dengan begitu, cairan malam di kepala canting tidak tercecer.

Mengambil cairan malam juga tidak boleh terlalu banyak. Saat peserta mencanting, goresan dilakukan dengan cepat mengikuti motif. Jika tidak, terlalu banyak dan tebal malam yang menetes.

Yang salah gores atau masih belepotan tidak perlu khawatir. Malam di kain bisa dibersihkan kembali dengan menggunakan air soda yang direbus sampai mendidih.
Selanjutnya kain batik diberikan warna (baca pewarnaan), lalu pelorotan, bilas dan dikeringkan.

