Pendidikan Khas Kejogjaan di SMA Negeri 1 Temon

oleh smatemon
0 Komentar

Yogyakarta dikenal sebagai Kota Pelajar sekaligus Kota Budaya. Di sekolah, kedua identitas ini bertemu dalam pendidikan berbasis budaya. Tujuannya agar peserta didik tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter dan berakar pada budayanya sendiri.

Apa Itu Pendidikan Berbasis Budaya dan PKJ?

Perda DIY No. 5 Tahun 2011 mendefinisikan pendidikan berbasis budaya sebagai pendidikan yang memenuhi standar nasional pendidikan, lalu diperkaya dengan keunggulan komparatif dan kompetitif berdasarkan nilai-nilai luhur budaya. Dengan begitu peserta didik menjadi pribadi yang unggul, cerdas, visioner, peka terhadap lingkungan dan keberagaman budaya, serta tanggap terhadap perkembangan dunia.

Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) adalah program penguatan karakter bagi peserta didik di DIY yang diluncurkan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada 23 Mei 2023. PKJ tidak berdiri sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi diintegrasikan ke dalam kurikulum dan kehidupan sekolah.

Perda juga mendorong pemahaman falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, Golong Gilig, Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh sebagai bagian dari penguatan jati diri dan karakter peserta didik.

Dasar Hukum

  • Undang-Undang No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta
  • Perda DIY No. 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta
  • Perda DIY No. 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Budaya
  • Pergub DIY No. 68 Tahun 2012 tentang penerapan nilai-nilai luhur budaya
  • Pergub DIY No. 66 Tahun 2013 tentang Kurikulum Pendidikan Berbasis Budaya

18 Nilai Luhur Budaya

Sesuai Pasal 2 ayat (2) Perda DIY No. 5 Tahun 2011:

  1. Kejujuran
  2. Kerendahan hati
  3. Ketertiban/kedisiplinan
  4. Kesusilaan
  5. Kesopanan/kesantunan
  6. Kesabaran
  7. Kerja sama
  8. Toleransi
  9. Tanggung jawab
  10. Keadilan
  11. Kepedulian
  12. Percaya diri
  13. Pengendalian diri
  14. Integritas
  15. Kerja keras/keuletan/ketekunan
  16. Ketelitian
  17. Kepemimpinan
  18. Ketangguhan

Pelaksanaan di SMAN 1 Temon

1. Integrasi dalam Pembelajaran

Guru mengaitkan materi mata pelajaran dengan konteks budaya dan kearifan lokal Yogyakarta dan Kulon Progo, baik dalam bentuk materi, integrasi nilai luhur dalam pembelajaran maupun dalam jurnal penilaian sikap.

2. Kokurikuler

Kegiatan kokurikuler menjadi wadah peserta didik mengalami langsung budaya local berupa:

  • Olahraga tradisional, misalnya egrang dan gobak sodor
  • Festival Dolanan tradisional, misalnya jamuran, cublak-cublak suweng, dan dakon
  • Nglarak blarak, Olahraga tradisional khas Kulon Progo yang menggunakan daun kelapa sebagai media.
  • Makanan tradisional, mengenal, memasak, dan mencicipi kuliner khas daerah, misalnya geblek khas Kulon Progo.
  • Membatik

Melalui kegiatan ini, nilai kerja sama, kesabaran, ketelitian, kerja keras, dan kepedulian dilatih lewat pengalaman nyata.

3. Ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler menjadi wadah pelaksanaan PKJ di SMAN 1 Temon diantaranya dengan ekstrakurikuler Karawitan, Tari Tradisional, Panahan dan Paduan Suara

4. Pembiasaan
Pembiasaan nilai luhur menjadi hal paling penting dalam internalisasi nilai luhur budaya diantaranya dengan Ngajeni:

Ngajeni adalah budaya saling menghormati dalam pergaulan sehari-hari, yang dibiasakan oleh seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga tenaga kependidikan:

Pembiasaan

Makna dan penerapan

Ngapurancang

Sikap tubuh yang sopan dan hormat saat berhadapan atau berbicara dengan orang yang dihormati

Jempol

Menunjuk arah atau mempersilakan dengan ibu jari, bukan telunjuk

Nuwun sewu / Nderek langkung

Ucapan permisi ketika lewat di depan orang lain

Nyuwun pangapunten

Meminta maaf dengan santun

Matur nuwun

Mengucapkan terima kasih

Monggo

Mempersilakan dengan sopan

Injih

Menjawab “ya” dengan hormat

Pembiasaan ini berjalan bersama budaya 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun, yang dilaksanakan setiap pagi,  busana adat gagrak Yogyakarta dan Hari berbahasa Jawa setiap Kamis Pon.

5. Keteladanan dan Kultur Sekolah

Kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan menjadi teladan penerapan nilai-nilai luhur dalam keseharian.

6. Kemitraan dengan Orang Tua dan Masyarakat

Sekolah bekerja sama dengan orang tua/wali dan masyarakat agar nilai yang sama diperkuat di rumah dan lingkungan.

  1. Program 3 Bahasa (Broadcast 3 Bahasa, Pidato 3 Bahasa, MC 3 Bahasa, dan Literasi 3 Bahasa), yang salah satunya adalah menggunakan Bahasa Jawa di semua event dan program tersebut

 

Peran Warga Sekolah

Pihak

Peran

Murid

Menerapkan Ngajeni dan nilai luhur dalam sikap sehari-hari, serta aktif dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler dan program 3 Bahasa

Guru dan tenaga kependidikan

Mengintegrasikan nilai budaya dalam pembelajaran dan menjadi teladan

Orang tua/wali

Membiasakan unggah-ungguh di rumah dan mendukung kegiatan sekolah

Sekolah

Menyediakan program, kebijakan, dan lingkungan yang mendukung

Penutup

Pendidikan Khas Kejogjaan adalah upaya bersama agar lulusan SMAN 1 Temon cerdas, berkarakter, dan bangga akan budayanya. Dukungan orang tua dan masyarakat sangat kami harapkan.

You may also like

Tinggalkan komentar