Semarak Festival Nglarak Blarak Kelas XI: Wujud Nyata Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan yang Sportif, Kreatif, dan Guyub

oleh smatemon
0 Komentar

Temon, 24 September 2026 — Suasana meriah dan penuh semangat tampak jelas di Lapangan Sibogor, Hargomulyo, Kokap. Seluruh murid kelas XI tumpah ruah mengikuti acara puncak Kokurikuler Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) melalui festival permainan tradisional khas Kulon Progo yang berjudul Nglarak Blarak, dengan mengusung slogan: “Guyub, Greget, lan Ngajeni”.

Festival Nglarak Blarak merupakan salah satu kegiatan kokurikuler yang memadukan pembelajaran lintas mata pelajaran yaitu Matematika, Penjasorkes, Pendidikan Agama, dan Bahasa Indonesia. Kegiatan ini bertujuan sebagai wadah penanaman karakter luhur khususnya nilai-nilai luhur Budaya Jawa. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari (20 s.d. 25 September 2026), dimulai dari tahap pengenalan Pendidikan Khas Kejogjaan, pengenalan teknis permainan Nglarak Blarak, kekompakan tim, hingga puncak pertandingan dan ditutup dengan menonton vlog berita per kelas disertai refleksi kegiatan.

Kegiatan kokurikuler dibuka langsung oleh Kepala SMA Negeri 1 Temon. Dalam sambutannya, Ibu Dra. Lestari Asih Partiwi menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya di wilayah Kabupaten Kulon Progo harus terus dihidupkan di lingkungan sekolah. Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) melalui festival nglarak blarak perlu memperhatikan pembentukan budi pekerti luhur melalui budaya tindak NGAJENI (menghormati sesama), sikap guyub (kebersamaan), greget (semangat bersungguh-sungguh), serta sportivitas tinggi.

Selanjutnya, murid juga mendapat pembekalan teknik permainan Nglarak Blarak dari narasumber ahli yaitu Kak Fira Melinia Wati (Penggerak Desa Wisata Pengasih) dan Kak Alvin Febri Cahyandaru (Karang Taruna Kapanewon Pengasih). Kak Fira dan Kak Alvin menjelaskan bahwa Nglarak Blarak bukan sekadar permainan tradisional leluhur yang memanfaatkan pelepah kelapa (blarak), sabut kelapa (sepet), bambu (bumbung), dan tongkat (utik). Tetapi, Nglarak Blarak merupakan media pembelajaran karakter yang kaya makna bagi murid.

Pada hari kedua, murid mendapat penguatan mendalam mengenai Pendidikan Khas Kejogjaan dan kaitannya dengan Nglarak Blarak. Materi ini disampaikan langsung oleh Bapak Fajar Kurniawan, S.Pd. (Guru Bahasa Jawa). Pak Fajar menegaskan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana dan Golong Gilig yang terintegrasi langsung dalam permainan Nglarak Blarak.

Pada hari ketiga, setiap kelas dibagi menjadi 3 kelompok yaitu penyelenggara, pemain, dan supporter. Setiap kelas mengirimkan tim terbaiknya yang terdiri dari 10 pemain (6 pemain inti, 2 pemain cadangan, dan 2 official) dengan pembagian peran yang unik, mulai dari penarik jaran blarak, pengantar sepet, pembawa keranjang hingga sang kapten tim sekaligus joki yang berdiri di atas pelepah kelapa demi merebut bumbung di tengah arena. Setiap tim berlatih untuk mempersiapkan kegiatan pertandingan Nglarak Blarak.

Puncak acara berlangsung pertandingan Nglarak Blarak antarkelas di Lapangan Sibogor. Kegiatan ini menarik perhatian warga sekitar. Teriakan yel-yel bernuansa Jawa yang kreatif, gemuruh suara supporter, dan gelak tawa penonton menciptakan suasana kebersamaan yang hangat. Hal yang bermakna dari pertandingan ini, kemenangan bukanlah satu-satunya tujuan. Kekompakan tim menjadi kunci kesuksesan. Berkat tim yang solid dan pemain yang tangguh, kelas XI A menjadi juara pertandingan Ngarak Blarak ini.Melalui kegiatan kokurikuler Nglarak Blarak, diharapkan murid tidak hanya mengenal budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi benar-benar menjadikannya sebagai pedoman hidup untuk menjadi generasi yang guyub, greget, lan ngajeni.

 

 

 

You may also like

Tinggalkan komentar